Edisi CetakNewsletterPodcast
Redaksi
B
BKNEWS
DaerahEkonomiInternasionalKesehatanLifestyleOtomotifPendidikanPolitik & HukumSportsTeknologi
Redaksi
BKNEWS
Terkini

Kategori

DaerahEkonomiInternasionalKesehatanLifestyleOtomotifPendidikanPolitik & HukumSportsTeknologi
Masuk Redaksi
B
BKNEWS

Portal berita independen, terpercaya, dan berstandar internasional. Menyajikan jurnalisme berkualitas untuk masyarakat global dengan integritas tanpa kompromi.

Kategori Utama

  • Daerah
  • Ekonomi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Lifestyle

Perusahaan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Karir
  • Kontak

© 2026 BKNEWS Media Group. Hak Cipta Dilindungi.

PrivasiSyarat & Ketentuan
Beranda/Lifestyle/Di Balik Gincu Merah Sandur
Lifestylesekitar 2 jam yang lalu6 menit baca

Di Balik Gincu Merah Sandur

Di balik lenggok lenggek, Sandur Madura menyimpan kisah identitas, tawa, dan perlawanan sunyi di tengah tekanan zaman.

R

Redaksi

4 April 2026

Bagikan:
Di Balik Gincu Merah Sandur
Foto: Di Balik Gincu Merah Sandur
Di balik selembar terpal usang di sebuah pekarangan Desa Arosbaya, Bangkalan, Saleh (52) mematut diri di depan cermin kecil yang ujungnya sudah retak. Udara malam Bangkalan tidak bertiup hanya diam dan lengket di kulit. Keringatnya bercampur dengan aroma bedak Viva murah yang ditepuk tebal menutupi kulit legamnya. Jari kasarnya, yang sehari-hari akrab dengan karung garam, kini luwes mengusap gincu merah menyala.

Di luar bilik dadakan itu, ratusan warga desa duduk bersila di atas hamparan tanah yang mengering dan pecah-pecah. Menanti.

Tiba-tiba, bunyi nyaring saron beradu dengan entakan kendang membelah kesunyian. Ritmenya rapat, seolah memompa darah. Saleh melangkah keluar. Ia bukan lagi kuli pelabuhan; ia kini seorang lenggek penari laki-laki berbusana perempuan.

Ia melenggang ke tengah arena persegi berbatas blabar janur kuning tali berhias daun kelapa muda. Lenggoknya gemulai, matanya mengerling tajam. Penonton bersorak riuh. Beberapa laki-laki paruh baya merangsek maju, ikut menari tanpa sungkan, lalu menyelipkan selembar lima puluh ribuan ke selendang Saleh. Tawa meledak lepas ke udara.

Malam itu, tidak ada yang benar-benar jadi penonton. Semua larut. Inilah Sandur Madura, ritus komunal yang terus berdegup, meski zaman di luar arena berlari makin kencang.

Bagi mereka yang memandang dari luar, kebudayaan Madura sering kali dipenjara dalam citra maskulinitas yang keras Carok atau pacuan Karapan Sapi. Padahal, jika Anda ingin menyentuh wajah Madura yang guyub, lentur, humoris, sekaligus sarat laku spiritual, teater rakyat inilah etalasenya. Para tetua kampung menyebut Sandur berasal dari kata "san" (selesai panen) dan "dhur" (ngedhur atau semalam suntuk).

Sandur diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18, tumbuh di pesisir utara Madura sebagai kesenian agraris pascapanen yang menyatu dengan tradisi ruwatan Jawa dan laku spiritual Islam pesisir. Kesenian ini bukan transplantasi dari luar; ia tumbuh organik dari endapan hidup masyarakat tani dan nelayan setempat.

Kini, Sandur menyusup masuk ke hampir seluruh nadi kehidupan warga pesisir. Mulai dari ruwatan, hingga yang paling masif: hajatan remoh. Di forum silaturahmi para blater tokoh informal atau jagoan lokal inilah Sandur menemukan panggung terbesar. Kelompok seperti "Rukun Keluarga" tempat Saleh bernaung rutin diundang, bukan sekadar menghibur, tapi merawat jejaring sosial dan ekonomi desa.

Selalu ada satu pertanyaan yang mengganjal bagi orang luar saat melihat Sandur: mengapa tarian segemulai itu dibawakan oleh laki-laki berdandan perempuan?

Sejarah punya jawabannya. Kuatnya napas Islam di Madura pada masa lalu membuat tokoh agama melarang perempuan menari di ruang publik, apalagi di tengah malam yang dikerumuni laki-laki. Sebagai jalan keluar, lakon itu diambil alih kaum adam.

“Saya sudah 28 tahun jadi lenggek. Dulu awal-awal, oh, sering dicemooh. Dibilang bânci atau menyalahi kodrat,” kekeh Saleh usai turun minum, menyesap kreteknya dalam-dalam. “Tapi lihat sendiri kan? Di arena ini, saya yang pegang kendali. Mereka yang menertawakan di luar, ujung-ujungnya ikut menari dan nyawer juga.”

Dari ucapan Saleh, kita bisa melihat lapisan filosofis yang tak kasat mata. Kehadiran lenggek adalah bukti bahwa lelaki Madura yang kerap distereotipkan berwatak kaku bak karang sejatinya punya kelenturan batin yang luwes. Mereka punya ruang kompromi.

Pertunjukan ini melayani dua dunia. Satu ke atas sebagai doa, satu lagi ke samping sebagai ruang negosiasi antarmanusia.
Urusan langit diserahkan pada sang pawang. Di tengah malam, ia merapal mantra campuran bahasa Madura dan Arab, memohon keselamatan kampung lewat wajah sinkretisme yang tidak dipaksakan. 

Sementara urusan bumi beres di atas arena. Tidak ada hierarki di bawah kelir janur kuning. Juragan tembakau, petani gurem, sampai tengkulak duduk sejajar. Arena ini, pada akhirnya, bukan sekadar panggung seni ia adalah pasar sosial.

"Ini bukan cuma soal nari. Ini cara kami saling menjaga punggung. Kalau ada tetangga butuh biaya hajatan, dari saweran inilah uang berputar," potong Rahman (45), sang panjak (penabuh gamelan) yang telapak tangannya penuh kapalan bekas memegang cangkul.
Sebagai sebuah teater komunal, Sandur mengalir dalam alur yang tertata. Pertunjukan umumnya dibuka dengan tabuhan gamelan sebagai panggilan, dilanjutkan dengan tari pembuka oleh lenggek. Setelahnya, lakon utama mulai digelar dan memuncak pada sogolan babak lawakan menjelang subuh. Sepanjang malam itu, sang pawang akan berdiri tegak di sudut arena, menjaga saksama agar energi gaib tak merembes keluar dari batas janur.

Daya pikat pertunjukan ini mencapai titik didihnya justru pada babak sogolan tersebut. Asap rokok kretek mengapung pelan di atas kepala penonton, bercampur bau tanah kering dan minyak kelapa dari lampu seadanya. Di sinilah kecerdasan improvisasi diuji. Tanpa naskah, tanpa sutradara. Aktor-aktor panggung melempar satir pedas: susahnya menebus pupuk bersubsidi, kades yang susah ditemui, sampai seluk-beluk peliknya bayar cicilan. Semua keluhan hidup disuarakan lewat banyolan. Orang-orang tertawa untuk sesuatu yang sebenarnya membuat mereka menangis di siang hari.

Masalahnya, tawa itu kini semakin samar. Sandur tidak lagi hidup di ruang hampa.

Hari ini, kesenian itu harus bertarung sungguhan. Krisis regenerasi bukan lagi ancaman, tapi kenyataan. Anak muda desa lebih memilih push rank Mobile Legends di warung kopi berselancar WiFi ketimbang belajar memukul saron. Belum lagi benturan dengan mengerasnya arus puritanisme agama. Ada tekanan tak kasat mata. Kadang perizinan dari desa dipersulit. Di beberapa kampung, sentimen bahwa lelaki berdandan perempuan adalah tabu membuat Sandur mulai sepi tanggapan.

Para seniman bukannya pasrah. Kelompok "Rukun Keluarga" misalnya, mulai memangkas durasi dari semalam suntuk menjadi tiga jam saja. Naskah lawakannya digeser. Tidak cuma bahas gagal panen, tapi mulai menyindir pinjaman online yang menjerat ibu-ibu PKK atau hilangnya sinyal internet saat hujan.

Beberapa anak muda yang tersisa mencoba merekam pertunjukan ini lewat kamera ponsel untuk diunggah ke YouTube. Hasilnya? Kadang hanya mentok di angka dua ratus tayangan. Kalah jauh, tertimbun dalam algoritma video joget pendek yang menembus puluhan ribu views dalam sehari. Tapi mereka tetap mengunggahnya.

Sandur mengajarkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di buku teks mana pun: bahwa kesenian rakyat bukan hiburan semata. Ia adalah arsip hidup tempat sejarah, kritik, dan doa disimpan dalam satu malam yang sama. Ia juga mengajarkan bahwa identitas bisa lentur tanpa kehilangan akarnya, bahwa keberanian tidak selalu berbentuk kekerasan kadang ia hadir dalam selendang dan gincu merah menyala serta bahwa tawa bisa menjadi cara paling jujur untuk menyebut kesakitan.

Ketika semburat jingga perlahan mengiris langit timur Arosbaya, saron akhirnya diam. Arena beringsut dibongkar.

Saleh menghapus sisa gincu dan bedak tebalnya dengan handuk basah yang sudah dekil. Pagi ini, ia harus kembali menjadi buruh, bersiap memanggul karung-karung garam yang beratnya menguji tulang. Kehidupan nyatanya tidak pernah mudah. Tapi semalam, di bawah temaram lampu dan batasan janur kuning, ia adalah pusat dari segala pandangan.

Dan itu sudah cukup. Untuk Saleh, untuk Sandur, dan untuk semua yang hadir malam itu sebentuk keras kepala yang indah.

Tag:#sandur madura#kesenian tradisional madura#lenggek#budaya madura#tradisi remoh#seni pertunjukan rakyat

Baca Juga

Waduk Klampis Sampang, Potensi Wisata dan Konflik Aset yang Belum Usai

Lifestyle

Waduk Klampis Sampang, Potensi Wisata dan Konflik Aset yang Belum Usai

9 hari yang lalu