Ekonomi Donat: Mengapa Pertumbuhan Bukan Lagi Jawaban?

Ilustrasi konsep Ekonomi Donat karya Kate Raworth yang menggambarkan keseimbangan antara kebutuhan sosial manusia dan batas ekologis planet.
Ilustrasi - Ekonomi Donat menyeimbangkan kesejahteraan manusia dengan batas ekologis bumi yang berkelanjutan. Foto: Istimewa

Ringkasan Berita

  • Ekonomi Donat adalah konsep ekonom Kate Raworth dari Oxford yang menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan keterbatasan planet.
  • Model memiliki dua batas: batas dalam (12 fondasi sosial dasar) dan batas luar (9 batas ekologis planet yang tidak boleh dilanggar).
  • Ekonomi Donat menantang obsesi PDB yang buta terhadap dampak sosial dan lingkungan, menawarkan indikator keseimbangan dinamis.
  • Amsterdam menjadi kota pelopor yang mengadopsi Ekonomi Donat sejak 2020 untuk kebijakan konstruksi, tekstil, dan sistem pangan berkelanjutan.
  • Model ini relevan untuk Indonesia dalam mengevaluasi proyek seperti hilirisasi nikel dan IKN agar sejahtera tanpa merusak lingkungan.

Jakarta - Selama puluhan tahun, ada satu mantra suci dalam dunia ekonomi: pertumbuhan. Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi dewa yang dipuja, di mana kenaikannya dirayakan sebagai kemenangan dan penurunannya dianggap sebagai bencana. Namun, di tengah perayaan itu, kita sering kali lupa bertanya: pertumbuhan untuk siapa, dan dengan biaya apa?

Udara yang kita hirup semakin kotor, hutan yang menjadi paru-paru dunia semakin menyusut, dan jurang antara si kaya dan si miskin semakin menganga. Inilah paradoks pembangunan: angka PDB bisa saja naik karena pembangunan pabrik baru, tetapi pada saat yang sama, pabrik itu mungkin meracuni sungai yang menjadi sumber kehidupan warga di sekitarnya.

Di tengah kegelisahan ini, sebuah ide radikal namun sangat visual muncul, menawarkan kompas baru untuk kemanusiaan di abad ke-21. Namanya Ekonomi Donat, sebuah konsep yang digagas oleh Kate Raworth, ekonom dari Universitas Oxford. Ini bukan resep kue, melainkan sebuah kerangka kerja revolusioner yang bertujuan menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan keterbatasan planet kita.

Membedah 'Donat': Dua Batas untuk Kesejahteraan Manusia

Bayangkan sebuah donat. Bukan sekadar bentuknya, tetapi filosofi di baliknya. Model Ekonomi Donat memiliki dua lingkaran batas: batas dalam dan batas luar.

  1. Batas Dalam (Fondasi Sosial): Ini adalah lubang di tengah donat. Area ini mewakili kekurangan atau kemiskinan — kondisi di mana kebutuhan esensial manusia tidak terpenuhi. Menurut Raworth, ada 12 fondasi sosial yang harus dijamin untuk semua orang, termasuk akses terhadap pangan, air bersih, perumahan layak, sanitasi, energi, pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, dan hak suara politik. Jika ada orang yang jatuh ke dalam lubang ini, artinya ekonomi kita telah gagal.
  2. Batas Luar (Batas Ekologis): Ini adalah kerak luar donat. Area di luarnya mewakili kerusakan lingkungan yang tidak dapat ditoleransi. Para ilmuwan telah mengidentifikasi sembilan batas planet yang krusial bagi stabilitas bumi, seperti perubahan iklim, pengasaman laut, polusi kimia, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Melampaui batas ini berarti kita mendorong planet ke titik kritis yang membahayakan masa depan kita semua.

Di antara dua batas itulah terletak "daging" donat: sebuah ruang yang aman dan adil bagi kemanusiaan. Di sinilah tujuan ekonomi seharusnya berada — memenuhi kebutuhan semua orang tanpa merusak bumi.

Melampaui PDB: Mengapa Model Lama Tak Lagi Cukup?

Ekonomi Donat secara fundamental menantang obsesi kita terhadap PDB. Mengapa? Karena PDB adalah indikator yang buta. Ia menghitung semua aktivitas ekonomi sebagai hal yang positif, tanpa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang merusak.

PDB akan naik jika terjadi tumpahan minyak (karena ada biaya pembersihan yang besar), jika terjadi perang (karena ada produksi senjata), dan jika semakin banyak orang sakit (karena belanja kesehatan meningkat). PDB tidak peduli pada kerja sukarela, pengasuhan anak di rumah, atau kebahagiaan masyarakat. Ia adalah speedometer yang hanya mengukur kecepatan, tanpa peduli apakah mesinnya sudah mau meledak atau bannya akan copot.

Ekonomi Donat, sebaliknya, berfungsi seperti dasbor modern. Ia tidak hanya memberikan satu angka, tetapi serangkaian indikator yang menunjukkan apakah kita sudah memenuhi fondasi sosial dan apakah kita masih berada dalam batas aman ekologis. Tujuannya bukan lagi "pertumbuhan tanpa akhir," melainkan "keseimbangan dinamis."

Dari Teori ke Aksi: Amsterdam Sebagai Laboratorium Kota Donat

Gagasan ini mungkin terdengar utopis, tetapi beberapa kota di dunia mulai mengadopsinya secara serius. Pelopor utamanya adalah Amsterdam, Belanda. Pada tahun 2020, di tengah pandemi, pemerintah kota Amsterdam secara resmi mengadopsi kerangka Ekonomi Donat sebagai panduan untuk pemulihan dan kebijakan publik mereka.

Apa yang mereka lakukan?

  • Konstruksi Berkelanjutan: Mereka mengubah standar tender proyek konstruksi, memprioritaskan penggunaan bahan daur ulang dan desain sirkular.
  • Industri Tekstil: Mereka menargetkan pengurangan limbah tekstil dengan mendorong model bisnis penyewaan pakaian dan perbaikan.
  • Sistem Pangan: Mereka berupaya mengurangi sampah makanan dan mempromosikan konsumsi pangan lokal yang berkelanjutan.

Amsterdam menunjukkan bahwa Ekonomi Donat bukan sekadar teori akademis, melainkan alat praktis yang bisa digunakan untuk mendesain ulang kebijakan kota agar lebih adil dan ramah lingkungan.

Relevansi untuk Indonesia: Mungkinkah Donat Menggantikan Nasi?

Di tengah ambisi pembangunan masif, dari hilirisasi nikel hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), model Ekonomi Donat menawarkan sebuah cermin refleksi yang krusial bagi Indonesia.

Nikel mungkin mendongkrak PDB, tetapi bagaimana dengan dampak ekologis dan sosialnya di lingkar tambang? IKN dirancang sebagai smart and forest city, tetapi apakah pembangunannya sudah memastikan tidak ada masyarakat adat yang tergusur dan keanekaragaman hayati tetap terjaga?

Mengadopsi kerangka ini tidak berarti menghentikan pembangunan. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk berinovasi — mencari cara untuk membangun perumahan tanpa menggusur, menciptakan energi tanpa merusak iklim, dan menghasilkan kemakmuran tanpa menciptakan polusi.

Ekonomi Donat bukanlah sebuah cetak biru yang kaku, melainkan sebuah kompas. Ia tidak memberikan semua jawaban, tetapi ia membantu kita untuk mulai mengajukan pertanyaan yang benar. Pertanyaannya bukan lagi "bisakah kita tumbuh?", melainkan "bagaimana kita bisa sejahtera bersama di planet yang terbatas ini?". Sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting untuk masa depan kita semua.

0/Post a Comment/Comments

Silakan tinggalkan komentar Anda dengan bahasa yang sopan dan relevan dengan topik. Komentar yang mengandung spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian akan dihapus oleh moderator.